Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian?

Suatu hari, Fulan (bukan nama sebenarnya), pemimpin sebuah grup orkes campursari yang cukup tersohor di seantero Wonogiri (Jawa Tengah) ditelepon Pak Gagah (bukan nama sebenarnya), warga suatu desa di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri. Ia mau menyewa orkesnya Fulan untuk resepsi di rumahnya.

Fulan pun segera menghubungi krunya.

“Wah, kebetulan aku lagi bokek. Aku utang dulu, ya, Bos?” kata si pemain organ.

“Nggak perlu. Nih, aku lunasi dulu honormu nanti,” jawab Fulan sambil menyerahkan uang Rp 300.000. Toh, pikir Fulan, seusai pentas ia akan menerima Rp 1.000.000 tunai untuk lima orang personil orkes: si pemain organ, kru teknik, Fulan sang pemimpin, dan istrinya, Fulanah, yang bertindak selaku penyanyi, serta seorang penyanyi lain.

Singkat cerita, tibalah hari-H. Malamnya, rombongan orkes Fulan menempuh perjalanan ke rumah Pak Gagah.

Baca lebih lanjut

Mau Mati Malah Diketawain Mama

Selesai pelajaran olahraga, tiba-tiba di seragam sekolah Yunita David (kelas 5 SD) ada noda darah. Cuma sedikit, tapi sudah bikin bingung. “Wah, udah mau mati, nih,” pikir Yunita.

Selama beberapa hari, murunglah Yunita. Nggak enak makan, nggak nyenyak tidur. Mau ngerjain apa-apa nggak mood. Bawaannya takut mati aja. Ia takut benar-benar kena penyakit maut. Seraaam!!

Untuk menghambat perdarahan itu, Yunita memakai tisu. Bukan tisu yang kemasan kecil. Yang dibawanya, kemasan besar berisi 250 lembar. Kelihatan banget, ke mana-mana bawa bontotan. Wah, pokoknya kacau deh!

Sejauh mana kacaunya? Baca lebih lanjut