Berbagi itu Indah

Bagaimana rasanya ketika kamu menikmati sebuah roti sendiri dengan membelah menjadi dua untuk adikmu? Apakah terasa berbeda?

 

Atau ketika kamu makan siang sendiri atau bersama teman-teman dengan saling bertukar lauk ataupun membaginya?

 

Bukankah lebih nikmat ketika berbagi?

 

Walau mungkin jumlahnya berkurang, tapi kenikmatannya malah bertambah karena menurut saya ada kenikmatan kebersamaan dan kehangatan

 

***

Hari pertama Ramadhan ini saya disuguhi sebuah hikmah yang indah tentang sebuah cinta dan kebersamaan. Sesuatu yang sebenarnya dekat sekali, tapi kerap begitu susah menyadari.

 

***

 

Hari ini rasanya saya pusing sekali, bukan karena lapar puasa karena hari ini saya memang tidak berpuasa. Pekerjaan yang harusnya begitu mudah saya kerjakan, sepertinya tak kunjung selesai. Selain kondisi tubuh yang tidak enak, suasana di rumah benar-benar tidak mendukung. Bising dan tidak menyenangkan.

 

Dari mulai mbak saya yang duduk di belakang saya yang terus bertanya ini dan itu, menyuruh ini dan itu, kakak ipar yang tak pernah kapok ngeledek saya, keponakan yang ribut, nangis, jalan-jalan. Ramai. Berisik. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Suara piano yang dimainkan membuat saya menyetel winamp dengan kerasnya. Woy berisik…😦

 

Pernah dalam keadaan kesal dan marah, saya mengungkapkan keinginan kepada ibu untuk pergi dari rumah, ngekos. Beberapa kali saya kemukakan itu, dan sempat terdengar kakak dan membuat dia tersinggung dan mengatakan harusnya dia yang keluar dari rumah ini. Hmmm.. rasanya ga tahan ada di sini. Bener-benar ga kondusif, berisik, capek.

 

Saya tak pernah berpikir dan berharap ada dalam kondisi ini. Tinggal bersepuluh dalam satu rumah. (7 dewasa + 3 anak) Tapi, siapa yang menyangka ketika seharusnya saya membutuhkan keheningan untuk bekerja, saya harus diributkan dengan urusan keponakan saya yang menangis dan mengompol dan ingin bergantian memakai komputer sementara saya banyak kerjaan, kakak saya yang ribut biaya telpon dan listrik yang membuat saya tak lagi memakai telepon rumah, urusan bergantian listrik antara AC, air, komputer, nyetrika, dll serta gangguan-gangguan kecil lainnya. Jadi, harap maklum ketika tiba-tiba listrik mati dan hal biasa ketika ibu mengingatkan ”udah disimpen nov?” atau ketika saya bertanya, “Boleh nyalain komputer, ga?”

 

Belum lagi, kini saya tidak memiliki privasi, kamar saya kini ditempati dua pembantu di rumah saya. Seharusnya, kami satu kamar bertiga, karena barang-barang saya, kasur saya masih ada di sana, tapi karena sering tidur larut, saya enggan untuk masuk kamar dan khawatir membangunkan mereka. Saya lebih sering tertidur di ruang kerja saya yang juga penuh dengan beraneka barang dan mainan keponakan saya. Benar-benar tidak enak.

 

Rasanya memang tidak enak sekaligus tidak menyenangkan berada dalam kondisi itu. Mungkin seharusnya saya kerja kantoran saja. Tidak full 24 jam ada di sini dengan segala keributan dan kehebohan.

 

Tapi, tiba-tiba di tengah ketidakenakan itu saya menemukan sebuah titik yang membuat diri saya sadar. Kesadaran yang entah ada di sudut hati yang mana hingga saya baru mengerti.

 

Yups, sebuah kehangatan keluarga. Suasana, keceriaan, keramaian selalu jadi warna dalam hari-hari saya. Suara mesin air, suara TV, teriakan keponakan, kehebohan di pagi hari dan masih banyak lagi.

 

Kenapa saya harus kesal dengan kondisi ini? Kenapa saya tak melihat sisi lain dari kehidupan saya yang terbilang unik dan menyenangkan yang belum tentu bisa saya dapatkan ketika saya ngekos atau hanya tinggal bersama ibu.

 

***

 

Pertama, di sini ada ibu, yang tak segan mendukung saya 1.000% ketika akhirnya saya memutuskan freelance dengan pemasukan yang tak tentu. Yang sering dengan tiba-tiba menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk karena saya terus saja di depan komputer hingga lupa waktu makan. Atau menaruh secangkir teh, segelas air putih atau secangkir kopi di atas meja kerja saya, atau menaruh jeruk di sebelah monitor komputer saya.

 

Hmm.. bisa dikatakan saya benar-benar dimanja, sangat… sangat.. dan apa yang dia tuntut dari saya? Tidak ada.. dia akan gembira ketika saya memberi sekian uang saya untuk dia, dia akan tersenyum ketika saya memberi honor menulis. Dan bila saya tak mampu memberi, dia tak minta apa-apa. Dia bahkan sudah seperti manajer saya, sering mengingatkan saya ketika saya mulai bermain-main, karena dia tahu saya sedang ada kerjaan. Terkadang memberesi meja kerja saya. Merapikan kertas-kertas dan mengamankan flashdisk, setumpuk cd dari jangkauan keponakan saya.

 

Kedua, mbak saya, kata-kata seperti:

“Nop, gw beliin pulsa, tuh” “Nop, mau oleh-oleh apa?” “Nop, gw beliin makanan tuh” “Kembaliannya ambil aja”, “Bonekanya buat lo aja” “Ayo gw anter,” “Yuk, kita ke sana yuk” “Nop, mau nitip apa?” dan masih banyak lagi yang dia lakukan untuk saya, adiknya. Tanpa minta apapun dari saya. “Kalo lo mau ngasi sukur, ga ya udah” ketika saya bertanya tentang biaya listrik di rumah atau di satu kesempatan  betapa seringnya saya berkata “oleh-oleh, ya” “mau doooooooonk” dan sangat sering juga dia membawakan oleh-oleh dan memberi. Dia pun tak pernah absen memberikan saya THR🙂 atau manalangi membayarkan benda yang ingin saya beli.

 

Kakak ipar saya… Siapa yang rela mengangkut 3-5 rim kertas dari pasar pagi, ketika saya menitip, yang mengoleh-olehi saya tas ketika dia jalan-jalan, yang dengan mudah mentraktir saya, yang beberapa kali mengantar saya ke klinik ketika saya sakit, mencarikan tempat saya berobat, yang mengusahakan mencarikan makanan favorit saya ketika saya menitip ke mbak saya, yang rela ikutan bolos ngantor, ketika satu keluarga menjemput saya di bandara, membawakan tas-tas saya dan masih banyak lagi…

 

Saya akui mereka pasangan yang cocok kalau urusan berbaik hati. Pasangan unik yang kerap membuat saya geleng-geleng kepala, dan seharusnya bisa berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka.

 

Terakhir, 3 keponakan saya, mereka selalu menangis, marah ngambek, tapi mereka tertawa dengan renyahnya, menggoda saya, menepuk-nepuk saya dari belakang ketika saya bekerja, ikut mengetik di komputer ketika saya pangku, bercanda, dan tentunya saya harus siap sedia kena ompol mereka dan menyeboki di kala mereka buang air.

 

Ibu, mbak, kakak ipar dan 3 keponakan saya memberi begitu banyak, sementara mereka hanya meminta sedikit pengertian saya, betapa pentingnya kebersamaan, kehangatan keluarga.

 

Mereka tak pernah menuntut saya. Nggak pernah. Mereka memfalisitasi diri saya, cpu yang saya cicil dari ibu yang sudah menalangi terlebih dulu, meja komputer yang fungsional sehingga tidak terjangkau bayi-bayi manis di rumah, meja tulis yang dibelikan ibu, pemasangan internet atas inisiatif kakak ipar sehingga bisa dapat paket murah, mesin faks punya kakak tapi juga  bisa saya gunakan. Apa lagi??? Mereka hanya minta space sedikit di ruang saya untuk bermain, untuk menaruh barang dagangan kakak, tidak lebih. Mereka juga hanya meminta space sedikit di hati saya untuk “mengerti”. Mereka hanya minta sedikit waktu saya untuk pertolongan sesaat, mengajak bermain ketiga keponakan saya.

 

“Hmmm…, bukankah berbagi itu indah?”

Sekarang, di tengah penuhnya rumah ini, di tengah banyaknya barang-barang di ruang tamu, dari motor, mainan keponakan, kereta bayi,  dan buku cerita fikri di atas meja kerja, saya menikmati kenyamanan dan kehangatan dengan perasaan lapang. Mengapa saya harus kesal hanya dengan kebisingan sesaat, kebisingan yang mungkin satu saat nanti akan saya rindukan , keramaian di pagi hari, kehangatan makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan…..

 

Mereka membagi begitu banyak kepada saya dan hanya meminta sedikit kepada saya, yaitu sebuah pengertian.

 

Mungkin saat ini saya belum mampu sepenuhnya, tapi semoga saya bisa terus belajar untuk memberikannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s