Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian?

Suatu hari, Fulan (bukan nama sebenarnya), pemimpin sebuah grup orkes campursari yang cukup tersohor di seantero Wonogiri (Jawa Tengah) ditelepon Pak Gagah (bukan nama sebenarnya), warga suatu desa di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri. Ia mau menyewa orkesnya Fulan untuk resepsi di rumahnya.

Fulan pun segera menghubungi krunya.

“Wah, kebetulan aku lagi bokek. Aku utang dulu, ya, Bos?” kata si pemain organ.

“Nggak perlu. Nih, aku lunasi dulu honormu nanti,” jawab Fulan sambil menyerahkan uang Rp 300.000. Toh, pikir Fulan, seusai pentas ia akan menerima Rp 1.000.000 tunai untuk lima orang personil orkes: si pemain organ, kru teknik, Fulan sang pemimpin, dan istrinya, Fulanah, yang bertindak selaku penyanyi, serta seorang penyanyi lain.

Singkat cerita, tibalah hari-H. Malamnya, rombongan orkes Fulan menempuh perjalanan ke rumah Pak Gagah.

Sesampai di desanya Pak Gagah, rombongan Fulan segera menemukan tempat resepsi. Gedungnya megah, di sebelah timur perempatan dengan tenda yang wah, lampu di sana-sini, lengkap dengan TV dan video-shooting.

Setelah dipersilakan oleh seorang panitia, seperti biasanya Fulan segera memberi komando grupnya untuk beraksi.

Musik pun mengalun. Lagu demi lagu dilantunkan oleh Fulanah dan seorang penyanyi lain, juga Fulan yang merangkap menjadi MC (master of ceremony). Sambutan penonton cukup meriah. Pendek kata, sukseslah pertunjukan malam itu.

Setelah hajatan selesai dan tamu-tamu pulang semua, rupanya tidak ada seorang pun panitia yang mendekati Fulan dkk. Selaku pemimpin yang bertanggung jawab, Fulan berinisiatif menuju kerumunan orang di dalam rumah.

“Permisi. Tuan rumahnya siapa ya?” tanya Fulan dengan penuh harap.

“Ya, saya sendiri, Mas. Ada apa, ya?” jawab seorang berpostur tinggi kurus.

“Apa Anda Pak Gagah?” tanya Fulan lagi.

“Bukan, Mas,” jawab si empunya hajat, “Rumahnya Pak Gagah di dekat lapangan desa, kira-kira setengah kilometer dari sini.”

Waduuuh… mati aku, batin Fulan sambil melongo. Dengan gontai ia menuju ke tempat rekan-rekannya. “Jangan kecewa, ya! Tempat kita beraksi keliru. Tempatnya bukan di sini,” terang Fulan.

“Apaaa?? Keliruuu??” serempak mereka melongo.***

One thought on “Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s