Bila belum terbiasa antri membayar rekening

“Fulan, tolong bayarkan PDAM-nya ya!” kata Bu Fulanah, sang ibu kos.

“Iya, bu!” jawab Fulan, si anak kos di Cangakan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebetulnya, Fulan malas. Namun berhubung yang menyuruh dia itu ibu kos, terpaksalah ia mengiyakan. Berangkatlah ia ke kantor PDAM.

Sesampainya di tujuan, dilihatnya ada banyak orang yang duduk-duduk, seperti menunggu sesuatu. Beberapa diantaranya malah berdiri. Namun Fulan tidak peduli. Kedatangannya hanyalah untuk membayar rekening air. Titik.

Maka bergegaslah Fulan, dengan penuh percaya diri, mendatangi loket pembayaran.

“Mbak, saya mau membayar. Ini rekeningnya,” kata Fulan kepada sang petugas sambil menyerahkan kartu rekening milik Bu Fulanah.

“Ditumpuk sana dulu, Mas! Antri! Tunggu giliran!” jawab petugas agak ketus. Maklum, tanggal 20, hari terakhir pembayaran, sedang sibuk-sibuknya.

Rupanya, Fulan belum pernah membayar rekening air di kantor PDAM Karanganyar, Jawa Tengah. Pantas saja, ia belum tahu prosedur pembayarannya.

Dengan rasa malu karena dilihat orang banyak, Fulan mundur dan duduk manis menunggu panggilan di bangku yang kosong.

Beberapa saat kemudian, datanglah Pak Alim, tetangga Fulan. Setelah menumpuk lembar rekeningnya di tempat yang disediakan, Pak Alim ikut antri.

Pak Alim mengambil tempat duduk di sebelah Fulan. Mereka berdua berbincang-bincang sambil menunggu giliran.

“Bapak Karto Samino, Cangakan!” Tiba-tiba terdengar suara keras petugas memanggil. Sampai berulang-ulang, tidak ada yang maju ke loket pembayaran.

Fulan menolah-noleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Dengan sok akrab, karena yakin bahwa yang dipanggil itu adalah tetangganya, ia pun ikut memanggilkan nama tersebut. “Nooo! Saminooo!! Ayo maju, No!” teriaknya dengan kencang.

Tiba-tiba Pak Alim merasa terkejut. Ia baru ingat bahwa Pak Karto Samino itu mertua Bu Fulanah yang sudah almarhum. Artinya, itulah rekening Bu Fulanah yang dititipkan kepada Fulan.

“Hei, Fulan! Cepat maju sana! Itu rekeningnya Bu Fulanah yang dititipkan ke kamu,” ujar Pak Alim.

Terperanjatlah Fulan. Ia pun segera menuju loket pembayaran.

“Maaf, Mbak. Saya tadi tidak baca nama di rekening. Maklum, cuma disuruh ibu kos,” terang Fulan sambil tersipu malu. Telinganya menangkap suara orang-orang tertawa-tawa, menertawakan keluguannya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s