”We are Happy Family”

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku bersekolah di luar kota. Tinggal, aku yang ada di rumah bersama ayah dan ibu. Begitu banyak yang terjadi dalam hidupku semasa SMU. Aku menjalaninya dengan ketakutan dan kehampaan. Perjalanan yang tak pernah kuduga kalau aku ingat-ingat begitu menyesakkan dada. Kadang aku berpikir, apa ini adalah salah satu ujian dari Tuhan untukku? Aku tak pernah tahu, walau aku sadar benar, kejadian-kejadian itu membuatku lebih kuat.

 

Aku tahu adalah hal yang menakutkan mengetahui kalau abangku ternyata pecandu narkoba. Aku malu dan tak sanggup keluar rumah. Aku takut. Takut akan banyak hal dalam hidupku. Aku berada dalam kondisi di bawah dan tersudut. Ikut memikirkan, apa ini karena sikap ayah yang otoriter, keras? Atau memang abangku sangatlah bandel. Masa-masa SMU-ku seakan penuh dengan ketakutan. Hampir setiap hari aku ditanya di mana keberadaan abangku itu. Setahun, dua tahun, kejadian demi kejadian memengaruhi setiap langkahku.

 

Aku menjadi pribadi yang introvet, tidak bersahabat dan sensitif. Tapi, juga menjadi pribadi yang kuat dan peka dalam segala hal. Syukurnya, aku pun tak terbawa arus dengan ikut-ikut nakal. Nilaiku melonjak dan lulus sekolah dengan nilai yang cukup memuaskan.

 

Aku lupa, saat itu bagaimana mengatasinya hingga di tahun kedua saat kusekolah, aku mulai berkirim surat dengan abangku dan mendapati dia telah sembuh. Pada amplop surat untuk abangku, selalu tak lupa kububuhi kalimat ”We are Happy Family”. Kini, aku menjadikan dia sebagai seorang hebat yang memengaruhi hidupku. Dia aku anggap hebat karena berani melepas dirinya dari jeratan obat-obatan laknat.

 

Kata-kata ”We are Happy Family” sendiri ingin aku tunjukkan kepadanya, bahwa kami adalah keluarga bahagia, terlepas dari keadaannya dulu. Selain itu, kata-kata itu juga hadiah untukku dan abangku, kalau kami pun berhak bahagia.

 

Amplop tebal itu telah sampai di rumahku. Isinya tulisan tangan abangku tersayang. Sebelumnya, aku mengirimi surat kepadanya atas pertanyaan berbagai pilihan dalam hidupku. Aku kini bisa berkata. Masa lalu yang suram bukanlah halangan memulai hidup baru yang indah. Yah, aku masih diriku yang menulis kalimat ”We are Happy Family” di amplop surat untuk abangku. Dan, abangku adalah manusia apa adanya yang pernah lengah dan lalai dan bukan berarti tak termaafkan.

Tuhan telah mengajari saya banyak hal.

 

 

*seperti diceritakan seorang sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s