Anak kita mirip siapa?

Dulu, aku merasa bangga bila orang bilang anak-anakku mirip aku. Dengan berlalunya waktu, aku tak peduli lagi apakah anak-anakku mirip aku ataukah tidak. Kini, aku berpikir:

Bagaimana sebaiknya? Apakah sebaiknya anak-anakku mirip aku, mirip ibu mereka, mirip kakek/nenek mereka, mirip paman/bibi mereka, mirip saudara sepupu mereka…? Ataukah sebaiknya tidak mirip siapa-siapa? Ataukah ini bukan persolan penting, sehingga sebaiknya kuabaikan saja?

Atas pertanyaan begitu, kuperoleh jawaban dari buku M Scott Peck, Tiada Mawar Tanpa Duri (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 113, 115-116:

Pencinta sejati selalu melihat orang yang dicintainya sebagai pribadi yang mempunyai identitas tersendiri. Dia akan tetap menghargai dan mendorong keterpisahan identitas dan individualitas unik orang yang dicintainya…. [Lihat “Berduaan = Cinta Sejati?“]

Sebagian besar orangtua, pada taraf tertentu, tidak dapat mengenali atau menghargai sepenuhnya kepribadian atau ‘kelainan’ anak-anak mereka yang begitu unik. Banyak sekali contoh-contoh yang dapat kita amati. Orangtua kerap bercerita tentang anaknya, “Dia benar-benar anak bapaknya.” Orangtua juga kerap berkata kepada anaknya, “Kau persis sekali dengan pamanmu Jim,” seakan-akan anak-anak mereka tersebut merupakan ‘copy genetik’ diri mereka atau anggota keluarga lainnya. Padahal kita tahu bahwa kombinasi genetis itu sedemikian rupa sehingga setiap anak, secara genetik, sangat berbeda dengan orangtua dan nenek moyang mereka. [Dibandingkan perbedaannya, kesamaannya amat sedikit.]

[Bila orangtua tidak mengenali kepribadian anaknya, apa akibatnya?] Ayah yang berbakat olahraga mendorong anaknya, yang berbakat sekolah, menekuni sepakbola. Dan ayah yang berbakat sekolah mendorong anaknya, yang berbakat olahraga, menekuni buku. Hal ini akan membuat anak tersebut mengalami kekacauan.

[Bisa pula, pihak orangtualah yang mengalami kekacauan. Contohnya sebagai berikut.]

Seorang istri jenderal mengeluh tentang putrinya yang berumur tujuhbelas tahun, “Bila Sally di rumah, dia selalu mengurung diri di kamarnya dan menulis puisi-puisi sentimental. Aneh sekali. Dan dia tidak pernah mau diajak ke pesta. Saya takut kalau dia benar-benar sakit.”

Saya lalu berbicara dengan Sally. Dia gadis yang ceria dan menarik. Dia juga termasuk anggota kehormatan di sekolah, dan mempunyai banyak sahabat. Kemudian saya memberitahu orangtua Sally bahwa menurut saya, Sally sehat. Dan saya menyarankan agar mereka tidak terlalu menekan dan mendesaknya menjadi ‘salinan’ (menjadi sama persis) diri mereka sendiri….

Para remaja kerap mengeluh dan berkata bahwa mereka berdisiplin bukan atas dorongan hati sendiri, tetapi karena takut memberikan kesan yang buruk terhadap orangtua mereka. “Orangtua saya selalu mendesak agar saya memotong rambut saya,” ucapan para remaja semacam itu sudah umum kita dengar. “Mereka tidak dapat menerangkan mengapa rambut panjang tidak baik bagi saya. Mereka semata-mata tidak ingin orang lain tahu kalau mereka punya anak-anak yang berambut gondrong. Mereka sebenarnya sama sekali tidak peduli tentang saya. Mereka hanya mau memperhatikan kepentingan mereka saja.”

Kejengkelan para remaja semacam ini sebenarnya bisa dimaklumi. Biasanya orangtua memang tidak bisa menghargai kepribadian unik anak-anak mereka. Mereka menganggap anak-anak sebagai perluasan [bagian] dari diri mereka sendiri. Demikian juga halnya dengan pakaian mereka yang bagus, taman mereka yang terawat rapi, dan mobil-mobil mereka yang mengkilap indah. Mereka menganggap ini semua sebagai bagian dari diri mereka, yang dapat menunjukkan status mereka pada lingkungan mereka. Bentuk narcisisme orangtua sedemikian ini tampaknya tidak apa-apa, tetapi berbahaya sekali.

Tentang hal ini, Kahlil Gibran pernah menulis… Anak-anakmu bukanlah milikmu….

3 thoughts on “Anak kita mirip siapa?

  1. Ping-balik: Cinta Sejati ala Anis Matta dan Scott Peck « M Shodiq Mustika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s