Lelaki Itu

    Untuk kesekian kalinya. Lelaki itu keluar dari rumah petaknya. Dia membawa salah satunya anaknya. Bergantian. Kadang, anak laki-lakinya yang kecil. Kadang, putri sulungnya. Meski terkadang, harus membawa keduanya. Sekedar untuk menunjukkan, bahwa adil itu memang harus ditampakkan dari mereka kecil. Dan dia melakukannya, tanpa lelah.

    Berjalan, sambil membawa salah satu anaknya atau bahkan keduanya. Dia membeli lauk untuk makan sang istri dan kedua anaknya. Maklum, di rumah petak yang dikontrakinya, belum ada peralatan memasak, sehingga keputusan untuk selalu membeli lauk, harus dia jalani. Kadang, para penjual menolaknya ketika dalam beberapa hari hanya nasi yang dibelinya tanpa lauk. Hingga, dia harus berjalan lebih jauh lagi dengan membawa salah satu anaknya atau bahkan keduanya. Tapi, kembali dia melakukan semuanya, tanpa lelah.

    Kembali ke petaknya, dengan lauk ditangannya. Sang istri tampak sudah menunggunya dari tadi. Kadang, pergi sebentar. Kadang, pergi lama. Dan apa yang dialaminya dia ceritakan dengan sang istri. Sang istripun hanya tersenyum. Semoga menjadi semangat untuk selalu tanpa lelah.

    Di kali lain, dengan kekar tangannya yang terkadang bergeser dikarenakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu, memeras pakaian yang sudah dicucikan sang istri. Menjemurkannya, sambil ditemani kedua anaknya berlari-lari, bermain riang dan gembira. Celotehan-celotehan mereka seperti senandung indah sebagai penyemangat untuk selalu tanpa lelah.

    Di lain waktu, lelaki itu keluar dari rumah petaknya. Kali ini tidak membawa salah satu anaknya atau keduanya, juga tidak istrinya. Dia hanya sendirian. Kali ini, dia hanya membawa tas ransel dipundaknya. Penampilannya tampak jauh lebih rapih dari biasanya dengan kemeja, juga jaket hitam, dan sepatu di kakinya. Dari ojek hingga bis, dia naiki menuju suatu tempat. Menahan panas, dan pikuknya kota. Meninggalkan debu di cerahnya wajah. Menahan lapar, dan hausnya dahaga. Dia akan melewati sebuah interview pekerjaan di suatu perusahaan. Interview demi interview dia lewati, meski belum ada satupun yang memberikan kabar baik untuknya. Dan semuanya, kembali dilewati tanpa lelah.

    Dan siangpun beranjak lelah. Dia pun kembali ke petaknya. Bersua dengan istri tercinta dan kedua malaikat kecilnya. Debu yang berteman terbasuh dengan senyum dan tawa mereka menyambut kedatangannya. Interview-interview formal itu memang belum ada kabar indahnya. Namun, interview-interview nyata dengan sang istri dan malaikat-malaikat kecilnya adalah kabar terindah untuknya. Menjadi penyemangat untuk selalu tanpa lelah.

    Saat-saat ini adalah saat-saat terberat yang harus dia jalani dan lalui bersama keluarganya. Namun, keluh itu hampir tak pernah keluar dari mulutnya. Senyum, senantiasa menghiasi bibirnya, ntah bagaimana hatinya. Sebagai pemimpin, kepala, juga nahkoda dalam perjalanan bahtera ini. Ketangguhannya sedang dipertaruhkan. Kesabaran juga keilkhlasan dalam menghadapi kesulitan hidup sedang diujikan. Apakah dia akan menjadi sosok lelah tak berdaya atau sosok sejati yang tanpa lelah. Semua sedang berada ditangannya. Dan semua karena cintaNya pada lelaki itu.

    Saat-saat ini juga adalah saat-saat terindah baginya. Untuk belajar dalam segala hal. Karena Sang Kekasih memberikan segalaNya dalam waktu yang bersamaan. Baik kesusahan juga kemudahan. Dan sungguh, Alloh tidak pernah akan ingkar akan janjiNya.

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” QS. Al-Insyirah:5-6.

    Menentramkan sang istri dan kedua malaikatnya adalah hal yang terpenting baginya saat ini. Mencari cara sendiri untuk menyelesaikan segala himpitan yang sedang menerpanya merupakan priorotas utamanya. Bagaimanapun, masalah yang kini menjeratnya harus dihadapinya, harus diselesaikan, sendiri. Dan itu dilalui tanpa lelah.

    Perjalanan lelaki itu masih panjang juga penuh liku. Seperti jalan panjang yang tiada ujung. Namun, jika Alloh tetap di hati semua akan terasa lebih mudah dan indah. Karena sesungguhnya, dalam perjalanan yang panjang dan juga penuh liku itu, tersedia segala macam bentuk keindahan yang tak pernah dijumpainya sebelumnya.

    Dan aku, semakin mencintainya. Setidaknya dalam perjalanan bersamanya selama hampir 5 tahun ini. Karena dia, lelaki itu, lelaki yang melewati semuanya tanpa lelah juga keluh dan kesah adalah seseorang yang bersamanya genap sudah setengah dienku.

One thought on “Lelaki Itu

  1. Ping-balik: Lelaki Itu (2) « ingga’s blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s