Ummahat Tangguh

    “Mba Sarah, besok jangan lupa ya, pengajian di rumah Ibu Ranti. Jl. Anggrek S7 no.9. Jam dua siang. Jangan telat loh.” Pesan singkat itu mampir di handphone ku dari sang guru, mengingatkan.

    Ini kali pertama aku mengikuti pengajian ini. Sebelumnya aku bergabung dengan pengajian lain yang beranggotakan para gadis. Dan aku, yang sudah menikah meski belum dikaruniai anak, merasa tidak nyaman di dalam pengajian tersebut dikarenakan pembahasan atau topic yang sering dibicarakan terkadang sudah tidak relevan lagi utnuk diriku yang sudah menikah. Aku ingin sesuatu yang baru, yang sesuai dengan kebutuhan diriku. Sehingga, aku memutuskan untuk dipindahkan dari pengajian tersebut.

    Alhamdulillah, terlalu lama. aku sudah mulai bergabung di pengajian yang kini baranggotakan para ibu.

    Aku pun datang keesokannya. Hampir-hampir tak percaya, salah rumahkah aku atau memang benar ini rumahnya. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari. Karena, bagiku ini lebih mirip dengan TPA dibanding tempat yang akan kudatangi untuk pengajian baruku.

    “Assalamu’alaykum.” Ucapku memberanikan diri untuk mencoba masuk.

    “Wa’alaykumsalam Wr.Wb, masuk.” Jawab seseorang dari dalam.

Dan aku pun masuk, “Maaf, benar ini rumah Ibu Ranti?” tanyaku

“Benar Mba. Ini Mba Sarah yaa? Saya Ranti.” Ucap wanita itu seraya memperkenalkan dirinya.

“Alhamdulilllah. Iya benar, saya Sarah.” Jawabku dan kami saling bersalaman

Suara anak-anak kian ramai, membuatku makin merindukan kehadiran bayi mungil dalam pernikahan kami. Tak lama pengajian pun dimulai. Meskipun suara merdu mereka menjadi backsound dari pengajian kami ini.

    “Ini Mba Sarah, dia anggota baru kita. Ayo Mba, memperkenalkan diri” ujar sang guru memperkenalkan dan mempersilakan diriku untuk memperkenalkan diri.

    “Biasa saja Mba, nama lengkap, nama panggilan, nama suami, kerja diamana, jumlah anak, tanggal lahir, alamat rumah, pendidikan, kegiatan atau pekerjaan jika ada.” Ujarnya lagi, seperti menjawab apa yang sedang dipikiranku.

    “Terima kasih sebelumnya untuk semua kesempatan ini. Assalamau’alaykum Wr.Wb. Nama lengakap saya, Sarah Widiastuti, biasa dipanggil Sarah atau Widi. Nama suami saya, Anjar Prakoso, kerja di perusahaan telekomunikasi. Anak belum ada, Alhamdulillah kami baru menikah, tiga bulan yang lalu, mohon do’a nya untuk segera diberi momongan.” Ujarku seraya memperkenalkan diri

    “Lahir di Jakarta, 15 Juni 1981. Alamat rumah di Jl. Kasuari blok B3 no.5. Pendidikan sarjana S1, dari Teknik Elektro STT Telkom Bandung. Aktifitas, di rumah saja. Saya kira cukup sekian. Terima kasih.” Lanjutku memperkenalkan diri.

    “Alhamdulillah, sudah kita dengar tadi, perkenalan diri dari Mba Sarah. Sekarang dilanjutkan ayo Bu Dita.” Sambil tersenyum sang guru pun mulai persilahkan anggta-anggota yang lain memperkenalkan diri mereka.

    Pengajian ini beranggotakan enam orang, dan kurasa aku yang paling muda dan muda diantara mereka.

    “Assalamu’alaykum, saya Dita Mahardika, biasa dipanggil Dita. Suami, Andri Wibowo kerja di Telkom. Anak baru tiga, yang pertama umur 8 tahun kelas 3 SD, sekolah di SD Citra Alam. Yang kedua 6 tahun kelas 1 SD, di SD yang sama. Dan yang terakhir 3 tahun, belum sekolah. Alamat rumah di Jl. Anggrek 3 no. 9. Pendidikan S1. Lahir di Medan, 18 April 1977. Aktifitas, ibu rumah tangga.” Ujarnya menjelaskan dirinya.

    Dan berlanjut ke semua anggota yang ada. Dan sungguh, that’s so amazing. Mereka semua adalah ibu rumah tangga yang memiliki anak-anak lebih dari satu dan di rumah mereka tiada asisten pribadi yang membantu mereka. Semua pekerjaan rumah mereka lakukan sendiri. Membagi waktu antara pekerjaan rumah dan mengasuh anak-anak mereka. Membagi perhatian antara pekerjaan rumah dan mendidik anak-anak mereka. Dan rasanya tiada keluh dari bibir mereka. Meski memang lelah ada, namun rasanya senyum mereka lebih menghiasi.

    “Capek sih ada Mba, tapi tingkah laku anak-anak itu loh yang membuat saya kembali bersemangat. Malu sama mereka.” Ucap Bu Rika ketika kutanya tentang keadaan dirinya dengan 5 anak laki-laki, tanpa seorang asisten pun dirumahnya.

“Ya repot juga, Mba. Apalagi, kalau lagi pada kepingin sama Umminya semua. Waduh, rumah ramai sekali. Pada nangis. Hehehe.” Ujar Bu Dina ketika kutanya tentang kerepotannya dengan 3 anaknya yang berjarak tak lebih dari setahun satu sama lain.

“Yang penting, sabar dan ikhlas, Mba, ngejalanin semuanya. Mba juga pasti bisa. ” Ucap Bu Rina saat kukatakan tentang ketidaksiapanku menjadi seperti mereka.

Ummahat tangguh sebutanku pada mereka. Dan aku pun kian berdecak kagum, sambil bertanya, sanggupkah aku seperti mereka. Ah..mereka seperti menyadarkanku bahwa perjalananku memang masih sangat panjang. Masih banyak yang harus dipersiapkan untuk memiliki anak, menerima amanahNya. Bukan hanya keinginan diri, namun juga kesiapan untuk menjadi seorang ibu bagi anak sebagai titipan dari Sang Pencipta.

    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s