Suara Terbalik — Nenden Lilis A

Pada suatu malam yang cerah, masyarakat Cikoneng mengadakan pendakian ke tempat Mbah Bajik bertapa. Mbah Bajik seorang tua yang tubuhnya telah berlumut oleh usia, seperti sudah merasakan akan banyak orang mengunjunginya malam itu. Dari ketinggian Mbah Bajik melihat barisan obor menyala, berbondong-bondong di jalan menuju ke tempatnya. Dari arah obor-obor itu terdengar suara getir merayap di kesunyian.

“Mbaaaaah…, tolonglah kami, tolonglah kami…”

Suara itu meratap-ratap bagai dibawa angin dari sebuah dasar jurang penuh ular berbisa.

“Ada apa Saudara-saudaraku tercinta? Nampaknya kalian diliputi kesedihan mendalam?” tegur Mbah Bajik dengan suara parau setelah mereka berkumpul.

Seseorang menjadi juru bicara dan mengungkapkan maksud kedatangan mereka. Mbah Bajik surti. Ia meminta mereka menunggu, lalu beranjak ke sebuah tempat khusus. Ia duduk bersila dan mengucapkan doa-doa dengan khusyu. Berulang kali ia seperti kehilangan konsentrasi, mengulangi lagi doanya dan semakin menguatkan konsentrasi. Suara Mbah Bajik lirih menembus alam yang senyap dan khidmat.

Tapi tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Lalu terdengar suara benturan, tubuh Mbah Bajik tumbang. Ia pingsan. Masyarakat segera memburu dan melakukan pertolongan semampunya. Untunglah, tak berapa lama kemudian Mbah Bajik siuman. Ia berpaling dengan wajah sedih, lalu menangis. Orang-orang menunggu dengan perasaan tak menentu.

“Kali ini aku tak bisa menolong kalian,” ucap Mbah Bajik lemah.

“Apa, Mbah?”

“Penyakit mereka sudah sangat parah dan mereka membentengi diri dengan kekuatan berlapis-lapis. Kalau aku menembus kekuatan-kekuatan itu, kita semua akan mati mengenaskan…”

“Lantas, apa yang harus kami lakukan, Mbah?”

“Jalanilah kehidupan kalian sebagaimana biasanya. Yang bisa kulakukan hanyalah menjaga agar penyakit mereka tak menjalar pada kalian.”

Akhirnya Mbah Bajik menyuruh mereka pulang dengan tenang. Mereka pun pulang dan sampai di kampung menjelang pagi.

Siang harinya masyarakat dikejutkan oleh berita bahwa Mbah Bajik diseret dengan paksa oleh serombongan polisi, dan kini berada di sel dengan tuduhan memimpin rapat gelap.

Masyarakat tak menerima hal itu begitu saja. Mereka melakukan unjuk rasa di depan kantor kecamatan sambil membawa poster-poster dan spanduk, serta meneriakkan protes-protes. Aparat keamanan berjaga-jaga di sekitar mereka. Tanpa mempedulikan penjagaan itu, beberapa orang menerobos ke ruangan kantor dan menjadi juru bicara, mengemukakan tuntutan-tuntutan masyarakat. Tapi Pak Camat Andareweng dan bawahan-bawahannya hanya terlongong-longong dan sama sekali tak bisa menanggapi.

Apa gnay akerem nakpacu (Apa yang mereka ucapkan)?” tanya Pak Camat Andareweng kepada para stafnya dengan kata-kata terbalik.

Imak kat itregnem napacu akerem, Kap (Kami tak mengerti ucapan mereka, Pak),” jawab para aparat itu dengan kata-kata terbalik juga.

Ualak utigeb atik amas, kat itregnem atak-atak akerem. Kok atak-atak takaraysam itrepes adap kilabret, ay (Kalau begitu kita sama, tak mengerti kata-kata mereka. Kok kata-kata masyarakat seperti pada terbalik, ya?)” celetuk Pak Camat Andareweng dengan kata-kata terbalik dan mimik tak berdosa. Mereka pun tertawa dengan suara terbalik.***

Tulisan di atas merupakan kutipan dari sepertiga bagian terakhir cerpen Nenden Lilis A, “Wabah” (Bandung Pos, 29 Oktober 1997).

2 thoughts on “Suara Terbalik — Nenden Lilis A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s