Konsultasi: Ternyata dia sudah beristri

assalamu alaikum pa ustad…. begini pa ustadz, saya punya tmn cwo yang kami berdua saling berjauhan , kenalan kami dulu swktu saya dan dia chating di intrnt. biasanya klu chating jarang2 ada yg nyambung tp klu kali ini saya chating nyambung bngt ma dia pa ustadz, jd mulai saat itu kami slng tukar menukar no hp dan saling bahkan tukar menukar fhoto pa ustadz. mulai saat itu kami berdua srng sms an bahkan tlp2an. dan dari sekian lama kami berkenalan kami berdua sama sama saling menyukai sekalipun kami belum prnh ketemu pa ustadz. tapi ada satu kekecewaan pada saat itu yang aku rasakan pa ustadz yaitu pada saat aku dan dia sama – sama saling menyayangi ., dia baru mengatakan kalau dia sudah berumah tangga dan mempunyai satu orang anak. pada saat dia mengatakan itu hatiku sakit, kecewa, menyesal ….
semua campur aduk pa ustadz. aku marah ma dia dan aq tanya ma dia kenapa baru sekarang dia katakan kalau dia sudah berumah tangga ? knp sebelum aku dan dia saling menyayangi baru dia katakan ? tp apa jawaban dia pa ustadz ” dia mengatakan kalau dia mengatakan dari semula mungkin aq ga mau menerima dia sebagai temannya ” emang benar juga yang dia katakan pa ustadz kalau aku mengetahui dari semula kalau dia sudah berumah tangga mungkin aku g mau melanjutkan perkenalan ini. tapi itu dia pa ustadz aq dan dia sudah sama – sama menyayangi dan kami sudah berusaha untuk melakukan hal supaya kami bisa pisah tapi tetap aj g bisa pa ustadz. emng sich beberapa bulan bisa pa ustadz walaupun itu suatu hal yang menyakitkan bagi perasaan kami , tapi demi kebaikan bersama kami tetap aj g bisa pa ustadz…
jadi aku sangat mohon dan mohon pada pa ustadz, atas pertolongannya pa austadz bagaimana cara mengatasi permasalahan kami ini. sebenarnya masih banyak lagi pa’ ceritanya tapi g mungkin aku bahas semuanya pa . aku sangat berharap kepada pa ustadz atas bantuannya agar permaslahan saya ini bisa dipecahan pa ustadz. tolong ya pa ustad bantu saya agar bisa melupakan dia pa ustadz.
atas pertolongannya saya ucapkan banyak terima kasih ya pa ustadz.
wasslamu alikum wr. wb……………

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Wa’alaykumusalam warahmatullah wabarakatuh.

Aku dapat merasakan kegalauan perasaanmu dalam kasus ini. Aku sendiri pernah dua atau tiga kali mengalami kejadian yang mirip dengan kasusmu itu. Hanya saja, posisiku adalah sebagai lelaki yang telah beristeri.

Seperti si dia, aku pun menyadari bahwa kebanyakan wanita tidak mau berteman dengan pria yang sudah beristri. Padahal, lelaki pun makhluk sosial. Kita mau berkawan dengan siapa pun (terutama yang berbudi mulia).

Melalui internet pula, aku pernah berkenalan dengan seorang gadis, sebut saja si C. Pada waktu interaksi yang ketiga, dia sudah “curiga” jangan-jangan aku sudah beristri. Aku menangkap gelagat bahwa dia takkan mau lagi berkomunikasi denganku kalau tahu bahwa aku berstatus kawin. Selanjutnya, aku tidak hendak menyembunyikan statusku ini (dalam waktu yang lama). Namun aku tidak ingin dia tahu statusku ketika sudah terlambat (yaitu ketika dia sudah menaruh harapan “tertentu” kepadaku). Aku hanya menunda memberi tahu si C sebentar saja, sampai dia merasa cukup “aman” berteman denganku.

Bagaimana caranya supaya si C merasa “aman” berteman denganku? Aku yakinkan dia bahwa hubungan pria-wanita tidaklah sebatas asmara. Pria-wanita dapat berhubungan akrab sebagai sahabat, sebagaimana berlaku di zaman Rasulullah saw. (Lihat “Gaul Akrab sesuai Sunnah Nabi“.) Lalu kukatakan kepada si C bahwa apakah nanti di hatinya tumbuh benih-benih asmara terhadap diriku ataukah tidak sama sekali, aku tetap takkan memutus hubungan silaturrahim dengannya. Dia tetap akan kuanggap sebagai wanita berbudi mulia yang aku perlu jadikan sahabat dunia-akhirat. Setelah menjelaskan ini semua, barulah kunyatakan statusku yang sebenarnya.

Aku menerangkan sikapku itu secara panjang-lebar melalui beberapa lembar surat. Di akhir surat itulah kuungkapkan statusku yang sebenarnya.

Meski biasanya berkomunikasi via eMail (dan hp), aku sengaja memilih media surat non-elektronik untuk urusan sepenting ini. Sebab, pembaca surat itu cenderung bersedia menyimaknya berulang-kali sampai benar-benar memahami. Sedangkan eMail biasanya hanya dibaca satu-dua kali saja. Padahal, dalam urusan penting, menyimak sampai benar-benar mengerti itu sangatlah penting, bukan?

Setelah si C membaca isi suratku itu dan memahaminya, alhamdulillah, dia pun tetap hendak melanjutkan hubungan persahabatan denganku. Mungkin karena dia sudah merasa cukup “aman”.

Supaya lebih “aman”, aku pun mengantisipasi kemungkinan munculnya masalah yang tak jarang melanda hubungan akrab antara seorang pria beristri dan seorang gadis. Strategi yang kutempuh, sebagaimana yang telah kuterapkan dalam semua pertemananku dengan para wanita, adalah menjadikan istriku sebagai temannya juga. Bila dia menjadi akrab denganku, maka perlu pula dia akrab dengan istriku juga.

Dalam kasusmu sekarang, kau pun dapat menerapkan strategi tersebut. Walau mungkin sudah agak terlambat, lebih baik terlambat daripada tidak mengatasi persoalan, bukan?

Jadi, berteman jugalah dengan istrinya. Jalinlah persahabatan seakrab-akrabnya dengan istrinya. Akan lebih baik bila hubunganmu dengan istrinya itu lebih akrab daripada dengan si dia. Boleh-boleh saja kau tetap berkomunikasi dengan si dia, tetapi frekuensi dan kualitasnya hendaknya tidak melebihi komunikasi antara dirimu dengan istrinya.

Demikian saranku. Semoga Allah Sang Maha Penyayang senantiasa menyertai kita dalam segala urusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s