TTC: Teman Tapi Cinta

Saya adalah boy (nama samaran) seorang mahasiswa salah satu PT di indonesia. Dan saya ingin sekali menjalankan sunnah mengenai pernikahan. saya selalu berusaha untuk tidak berpacaran, sekalipun kadang2 bertolak belakang dengan pikiran saya yang selalu dilingkupi rasa ingin memiliki pacar. Ya, mungkin ini dipengaruhi lingkungan yang seperti itu. Kini, kadang-kadang saya merasa jadi orang yang aneh, karena saya tidak bisa tegas memposisikan diri saya (pacaran/ tidak).

Belakangan ini saya kenal seorang ce yang bisa dibilang deket. Bisa dibilang kami sering jalan bareng, tapi saya berusaha untuk tidak berduaan di tempat yang sepi. Sebenarnya sech yang saya rasakan sekarang, saya tidak merasa sebagai siapa2nya dia. Saya hanya merasa dia adalah teman karib saya (hanya allah yang tau). Tetapi masalahnya adalah karena kedekatan kami berdua, akhirnya timbul gosip antara kami berdua.

Pertanyaannya adalah [1] apakah menurut syariat saya salah?? [2] Trus, saya pengen tau bagaimana ta’ruf tu (step2nya)?? [3] Kapan sebenarnya ta’aruf itu dimulai?? Mohon penjelasannya. Terima kasih..

Tanggapan M Shodiq Mustika:

[1] Aku belum tahu keadaanmu yang sebenarnya. Namun kalau informasimu sudah relatif lengkap, tak ada yang kau tutup-tutupi, maka menurutku kau tidak melanggar syariat islam. Bergaul dengan lawan-jenis tidaklah terlarang, tetapi justru merupakan sunnah Nabi. (Lihat Gaul Akrab Sesuai Sunnah Nabi.)

[2] Tahap-tahap perkenalan (ta’aruf) dengan lawan-jenis tidak ditentukan secara rinci dalam Qur’an atau pun Sunnah Nabi. Jadi, asalkan tiada hukum atau syariat yang kita langgar, kita bebas melewati tahap apa saja.

[3] Tidak ada pula batasan kapan perkenalan (ta’aruf) itu dimulai. Jika taaruf itu dibatasi untuk pranikah saja, maka itu justru merupakan bid’ah. (Lihat Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!)

[4] Apabila si dia tidak minta ketegasan darimu, biarkan sajalah. Mau disebut pacaran, taaruf, TTC… silakan. Toh malaikat Raqib-Atid tidak mencatat istilah yang kita pakai. Yang dicatat adalah amal kita.

Tidak perlu merasa aneh bersikap “abu-abu” seperti itu. Kau bukanlah orang satu-satunya. Aku juga begitu. Dulu saat aku akrab dengan seorang gadis yang kini jadi istriku, kami tak pernah “jadian”. Kami tak pernah menyebut satu sama lain sebagai pacar. Paling-paling, ketika kuperkenalkan dia kepada kawan-kawanku, kukatakan dengan ‘sok PD’, “Kenalkan… ini loh, wanita yang kelak jadi istriku. Insya’ Allah.”

[5] Bila menjaga diri untuk meredam gosip itu belum memadai, sempurnakanlah dengan doa & zikir yang relevan. (Lihat Doa & Zikir Cinta.)

Gitu dulu, ya, tanggapanku. Sudah cukup ataukah masih kurang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s