Belum ingin nikah, perlukah taaruf?

Bapak M Musodiq Mustika YAng saya Hormati sebelumnya saya minta maaf karena saya pembaca yang baru !

setelah sering saya membaca artikle yang bapak tulis saya jadi tertarik untuk konsultasi masalah saya

saya sekarang baru menginjak usia 21 dan hendak menginjak 22 saya dudah di perkenalkan dengan seorang wanita pilihan orang tua saya yang tak lain adalah rekan ayah semasa SMA beliau hendak mengenalkan Putrinya kepada saya dan saya kaget dengan adanya tawaran seperti itu karena entah kenapa saya masih merasa kalo saya itu masih jauh untuk menginjak hal-hal yang lebih serius.

kalo boleh jujur Pacaran saja saya ga pernah yah paling juga baru 1 kali dan itu juga ga berlangsung lama karena sangat singkat dan itu juga waktu SMA, menurut Bapak usia Normal untuk menikah pada seorang laki-laki itu di usia ke berapa Pa. dan saya masih dalam tahapan mengenal dia dan menurut syariat Agama sih dia Bagus gadis yang solehah tapi saya masih merasa jauh dengan ke adaan saya, saya yang masih suka main, nongkrong2 sama temen, terus gaul di Internet apa pantas dengan gadis yang taat kepada Agama, dan memang dalam hati kecil saya ingin sekali mendapat gadis yang solehah tapi saya masih suka merasa Minder dengan keadaan saya yang frofesinya sebagai Operator Di sebuah Warnet swasta.

dan saya mohon bantuan bapak saya harus gimana? apa saya haru Ta’aruf dulu dan pengalaman di Ilmu Agama saya Agak Kurang Gimana menurut pandangan Bapak,
dan 1 lagi nih pa gimana caranya mendapatkan Buku-buku Bapak apa ada di Toko-toko buku sedangkan daerah saya jauh dari toko-toko buku besar dan saya tinggal di daerah Kuningan Jawa Barat..

sekian surhatan saya dan mohon kiranya bapak memberikan bimbingan nya kepada saya selaku manusia yang haus akan ilmu Agama dan mohon di maafkan jika ada kata-kata yang tak berkenan di hati Bapak Terimakasih setitik ilmu dan Doa sangat saya Harapkan……

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Kasusmu mengingatkanku pada kasus serupa yang aku jumpai saat aku menjadi pembicara pada talkshow Istikharah Cinta di Ponorogo (5 November 2008). Ketika itu, seorang gadis bertanya tentang cara menumbuhkan kemauan untuk menikah. (Kebetulan, gambarnya terekam oleh Adam, 6 tahun, anak bungsu kami. Lihat gambar berikut.)

Mau lihat gambar yang lebih besar? Klik di sini!

Jawabanku: “Solusinya tergantung pada akar permasalahannya.” Lalu aku terangkan berbagai kemungkinan akar permasalahan beserta solusinya.

Seusai acara, sang gadis (bersama beberapa hadirin lainnya), melanjutkan konsultasi secara “privat”. Dari perbincangan yang lebih mendalam, ketahuanlah bahwa akar permasalahannya adalah keengganan dia untuk sering-sering menghentikan proses “taaruf”. Rupanya dia enggan mengecewakan orang-orang terdekatnya yang sudah berulang-kali “memfasilitasi” (atau menjadi “mak comblang”) untuk proses “taaruf”-nya. Padahal, dia sendiri belum ingin menikah dalam waktu dekat.

Terhadap persoalan itu, aku menyampaikan penjelasan yang panjang-lebar. Namun di sini kusampaikan ringkasannya saja, ya!

Terhadap pertanyaan utama, perlukah taaruf bila belum akan nikah dalam waktu dekat, jawabku tegas: ya, perlu. Hanya saja, kita perlu menyikapi taaruf sesuai dengan makna yang sebenarnya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.

Menurut Al-Qur’an (al-Hujurat 13), kita diperintahkan untuk bertaaruf dengan semua manusia, baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis, baik sebangsa maupun dengan bangsa lain, dan sebagainya. Pembatasan taaruf untuk pranikah saja justru merupakan bid’ah. (Lihat “Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!“.)

Atas dasar itu, kusarankan kepada sang gadis, “Terimalah semua tawaran untuk bertaaruf itu. Hanya saja, baik kepada si mak comblang maupun kepada lawan-jenis yang bertaaruf denganmu, perlu kau tegaskan sejak awal bahwa kau bersedia bertaaruf itu dalam rangka mengamalkan Al-Qur’an, terutama surah al-Hujurat ayat 13. Tegaskanlah pula bahwa menurut ayat ini, taaruf itu bermakna luas, bukan sebatas untuk pranikah. Seandainya taaruf ini berlanjut ke pernikahan, ya syukur alhamdulillah. Namun seandainya lanjutannya sebatas persahabatan belaka, maka mestinya tiada pihak yang merasa dikecewakan.”

Terhadap saranku itu, sang gadis menerimanya dengan wajah cerah dan senyum ceria. Semoga demikian pula dirimu. (Aamiin.)

Malah menurutku, kamu lebih membutuhkan taaruf daripada sang gadis. Sebab, dari kata-katamu, kutangkap kesan bahwa saat ini, kamu belum cukup cermat dalam berusaha mengenali seseorang atau sesuatu.

Diantaranya, kamu menyebutku “Bapak M Musodiq Mustika”. Padahal, namaku adalah “M Shodiq Mustika”. Dan nama ini sudah berulang kali aku sebutkan di artikel-artikel pada semua blogku, termasuk blog ini.

Mengenai “usia Normal untuk menikah”, aku sudah mengungkapkannya di halaman Kriteria Siap-Nikah.

Mengenai buku-buku karyaku, kamu tidak harus membelinya langsung di toko buku. Sebagian besar dari buku-buku karyaku bisa dibeli secara online lewat internet. Hal ini sudah aku ungkapkan pula, yakni di halaman “Bisa beli online“. Sebagai operator warnet, tentunya kau takkan kesulitan untuk menggunakan cara online, ‘kan?

Demikianlah tanggapanku. Wallaahu a’lam.

One thought on “Belum ingin nikah, perlukah taaruf?

  1. * emm begitu yah…kalo sebagai seorgg wanita saya merasa ta’aruf itu perlu sebab tanpa ta’aruf kt gk mungkin dong bisa kenalinn calon*(tanda kutip) pasangan kita dengan baik..sapa tahu ajah dy orangnya gak seperti yang kita kira…tp kt kan hdup beragama,so..kt harus dong ikutin aturan.aturan dalam kitab suci?”(AL.QUR’AN)
    ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s