Guru kecil yang sangat jujur

Fahmi keponakan saya menghampiri, menangis dan mengadu kalau baru saja kepalanya kejedot toples kerupuk. Dia merengek minta diperhatikan. Tak lama, dia sudah diam dan mau ketika saya suapi ayam goreng. Tak lama, dia sibuk bermain dan tak lupa memanggil saya ketika dia berhasil melakukan sesuatu. ”Be… Be…” panggilan yang terdengar merdu buat saya.

Baca lebih lanjut

”We are Happy Family”

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku bersekolah di luar kota. Tinggal, aku yang ada di rumah bersama ayah dan ibu. Begitu banyak yang terjadi dalam hidupku semasa SMU. Aku menjalaninya dengan ketakutan dan kehampaan. Perjalanan yang tak pernah kuduga kalau aku ingat-ingat begitu menyesakkan dada. Kadang aku berpikir, apa ini adalah salah satu ujian dari Tuhan untukku? Aku tak pernah tahu, walau aku sadar benar, kejadian-kejadian itu membuatku lebih kuat.

 

Baca lebih lanjut

Si Penulis

Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diari, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.

Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat “bakat” ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja.

Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain.

Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.

Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.

Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana.

Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.

Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.

Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.

========

21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.

Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.

Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.

Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.

Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya… Subhanallah

Si penulis itu bapakku… Darul Muna

Titik Ordinat

 


Senin pagi sekitar pukul lima, saya ke luar dari kamar. Sebuah senyuman dari ibu menyambut saya. Pagi itu ibu baru sampai dari Solo, setelah dari jumat kemarin ibu pulang kampung untuk menghadiri wisuda abang saya.

 

Saya tahu ibu masih lelah saat itu, tapi dengan wajahnya yang ceria ibu bercerita banyak tentang wisuda abang saya. Pun, ketika salah satu keponakan saya bangun, ibu menyambut ajakan bermain dengannya, hingga ketiga bocah di rumah bangun.

 

Saya ingat, bagaimana ”hebohnya” kami ketika ibu ingin pulang kampung. Saya, mbak dan kakak ipar saya menyesuaikan jadwal ada di rumah. Mbak saya akan mengantar pesanan boneka lebih pagi dan kemudian mengantar ibu ke tempat bus berangkat. Sementara itu, saya yang rencanya membantu acara pelatihan, urung hadir karena harus stand by menjaga 3 keponakan saya. Kakak ipar saya tidak ikut pergi ke banten pada jumat-sabtu. Saya sendiri, mengambil jatah pergi dari rumah hanya pada hari sabtu.

 

Isi rumah kami banyak. ada 6 orang dewasa. Dua diantaranya adalah khadimat. Tapi, begitu ibu berangkat ke Solo, kami sempat panik. Keadaannya saat itu, di toko mbak sedang ramai, saya punya beberapa acara dan beberapa pekerjaan.


Padahal sesuatu yang biasa, kalau ibu  ingin pulang ke kampung, apalagi ada momen wisuda abang saya. Tapi, tetap saja heboh, hehehe

 

Ibu, di rumah kami adalah titik ordinat. Beliau adalah penghubung di antara kami. Sentral dari segala aktivitas yang kami jalani. Ketika ibu pergi, berarti sentral sedang tidak hadir. Dan itu membuat beberapa kegiatan harus di re-schedule.

 

Segala hal yang terjadi di rumah, sebagian besar diketahui oleh ibu. Tanpa disuruh atau tidak, kami akan bercerita. Atau ibu akan angkat bicara bila mulai melihat kejanggalan di antara kami. Bisa dibilang, tak ada yang bisa bohong kepada ibu. Semuanya akan luluh seiring sikap dan perlakuannya kepada kami.

 

Ibu juga pencipta perdamaian di antara kami. Penghubung kalau di antara kami ada konflik. Ibu harusnya menerima nobel untuk hiruk pikuk yang terjadi di antara kami semua. hehehe

 

Ibu, adalah manajer buat saya. Beliau sering mengingatkan pekerjan saya. juga, manajer buat mbak saya. beliau begitu peduli pada bagaimana kami mengais rezeki setiap harinya.

 

Beliau tempat Konsultasi segala jenis masalah. Dari masalah pekerjaan, kuliah, pertemanan, dan lain-lain. Juga tempat konsultasi mbak dan abang saya.

 

Jadi, ketika ibu pergi sesaat saja, rasanya sangat kurang. Mungkin kalau saya yang meninggalkan rumah untuk satu hari, plus menginap, tidak terlalu berpengaruh, tapi kalau ibu yang cuma pergi sebentar, pasti sudah ada banyak yang merasa kehilangan.

 

Titik ordinat itu kini tengah tertidur lelap bersama salah satu cucunya. Melihat senyum dan mengingat kasihnya adalah harta tak ternilai buat kami 🙂

 

Luv u much Ibu

 


Penuh dengan Kejutan


 

Manusia boleh berencana, hanya Allah yang menentukan

 

 

            “Anak ibu kembar” ujar dokter saat itu kepada mbak saya dan suaminya. Hilang sudah berbagai pertanyaan yang sudah siap dikemukakan begitu mendengar pernyataan dokter tersebut. Kembar? Iya, kembar 2 telur, tidak identik, tapi 2 telur.  Masak, sih? Emang ada keturunan kembar? Begitulah pertanyaan yang diajukan ke mbak saya dan keluarga. Eh, ya dari kakak ipar kan ada, tapi kan jauh banget. Ibu saya pun menelusuri silsilah kembarnya, dan ternyata ada beberapa… Wah berarti, nanti saya juga bisa donk punya anak kembar (hehehe, ngarep;)). Wajarlah…

 

 


            Benar-benar mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi kami, walau awal kehamilan diwali dengan mbak saya yang kena penyakit gatal-gatal (giduan), padahal sebelumnya ga pernah. Bule saya yang bidan, menyarankan beberapa obat untuk penyakit gatal-gatalnya itu, tapi tidak mengonsumsi obat tertentu apabila sedang hamil. Benar saja, setelah dicek, dia hamil dan itulah pertanda awal kehamilan mbak saya.

 

            Perut mbak saya makin besar, hingga bisa di-usg. Dua bayi di dalam perutnya memiliki berat yang berbeda dan posisi yang malang melintang. Dipastikan saat itu, dia akan dioperasi sesar. Saat itu, diprediksi bayinya kembar perempuan, tapi si Fikri (anak pertama) kekeuh ingin adik kembar cowok cewek.

           

            Bulan berganti bulan, mulailah ditentukan kapan operasi sesar itu. Mbak saya dan kakak ipar sangat suka angka. Mbak saya lahir tanggal 17 ditambah 4 = 21, tanggal lahir Fikri, 21 + 4 = 25, tanggal lahir kakak ipar saya. Rencananya, mbak saya akan dioperasi tanggal 4. Angka penambahan dari hari lahir keluarga tersebut. Ga ada maksud apa-apa dalam tanggal-tanggal itu. Tapi, siapa yang menyangka, lagi-lagi kejutan hadir, kita Cuma bisaberencana. Pada tanggal 3, bule saya sudah mengingatkan untuk boking. Tapi, saat itu mbak saya masih santai aja sampai ketika di rumah sakit, diperiksa sudah mulai pembukaan, padahal kalau mau sesar, seharusnya dioperasi sebelum pembukaan. tempat pasca operasi, kakek dari kakak ipar juga menelpon menyakan kabar kapan dioperasi, sampai-sampai kakaknya kakak ipar dari Australia pun menelepon.

 

Saya kaget ketika mendengar kakak akan melahirkan hari itu. Padahal, saya sudah rencana ambil cuti besok, begitu juga kakak ipar dan bule saya. ditambah lagi keterkejutan saya ketika dikabari ibu, kalau mbak saya melahirkan kembar laki-laki dan perempuan. “HAA, kok bisa?” Bukan hanya saya yang kaget, dokter yang mengurus persalinan mbak saya pun kaget ketika mengangkat bayi laki-laki itu.


Alhamdulillah, sekarang usia mereka sudah 1 tahun lebih 4 bulan, 16 hari. Begitu banyak kejutan lanjutan di tiap detik perkembangan mereka. Dari mereka, saya banyak belajar tentang keceriaan, semangat, cinta, keggihan, dan banyak lagi…

Terima kasih, dede-dede yang lucu… bule sangat menyangimu

 

Secangkir kopi rasa mocca dan segelas teh hangat

Hari ini saya kembali dibangunkan dengan secangkir kopi rasa mocca buatan ibu. Sudah dua hari ini, ibu menyuguhkan secangkir kopi untuk saya. Kalau kemarin, karena saya pulang sudah malam setelah silaturahim ke klien-klien Khansa. Ibu seperti melihat letih di wajah saya, sedangkan hari ini, saya kelelahan karena begadang.

Saya tak pernah meminta  ibu untuk melakukan hal itu, tapi ibu tak pernah berhenti melakukan semua itu. Tidak hanya pada saya, tapi juga kepada kedua saudara saya, pun kakak ipar saya.
Perhatian ibu begitu besar. Sebesar cintanya dan sayangnya. Entah samudra yang mana yang sanggup menampung miliaran cintanya itu.

Akhirnya, menjelang siang saya tertidur, ibu membangunkan saya sambil mengingatkan ada pekerjaan yang harus saya kerjakan. Fiyuh, lelah. Segelas teh hangat kemudian terhidang di dekat meja tulis saya.
Ibu… lagi…lagi…
Saya nikmati secangkir teh hangat itu tidak dengan menyambi di depan komputer, tapi saya menyingkir sesaat dari ruang kerja saya menuju kursi panjang di ruang tamu rumah saya yang sederhana. Nikmat, hangat… sehangat cinta yang ibu berikan.
Kembali memulai pekerjaan. Ibu menghampiri, menaruh sebuah jeruk di atas meja tulis, dia hanya berkata, ”Nanti gelasnya ganti” sambil menunjuk gelas berisi air putih yang masih berisi setengah.

Jarang sekali terucap, kata cinta atau sayang darinya… tapi, seringkali tidakan-tindakan ibu yang sederhana membuat diri saya malu dan berpikir. Dia menunjukkan rasa kasih dan sayangnya dengan tindakan sederhana yang menyejukkan
Betapa nikmatnya secangkir kopi rasa mocca dan segelas teh hangat buatan ibu… Itu saja tak sanggup kubalas walau dengan sajian restoran unggulan manapun.
Karena ibu membuatnya dengan sejuta cinta dan semiliar kasih darinya.

luv u mom

Berbagi itu Indah

Bagaimana rasanya ketika kamu menikmati sebuah roti sendiri dengan membelah menjadi dua untuk adikmu? Apakah terasa berbeda?

 

Atau ketika kamu makan siang sendiri atau bersama teman-teman dengan saling bertukar lauk ataupun membaginya?

 

Bukankah lebih nikmat ketika berbagi?

 

Walau mungkin jumlahnya berkurang, tapi kenikmatannya malah bertambah karena menurut saya ada kenikmatan kebersamaan dan kehangatan

 

***

Hari pertama Ramadhan ini saya disuguhi sebuah hikmah yang indah tentang sebuah cinta dan kebersamaan. Sesuatu yang sebenarnya dekat sekali, tapi kerap begitu susah menyadari.

 

***

 

Hari ini rasanya saya pusing sekali, bukan karena lapar puasa karena hari ini saya memang tidak berpuasa. Pekerjaan yang harusnya begitu mudah saya kerjakan, sepertinya tak kunjung selesai. Selain kondisi tubuh yang tidak enak, suasana di rumah benar-benar tidak mendukung. Bising dan tidak menyenangkan.

 

Dari mulai mbak saya yang duduk di belakang saya yang terus bertanya ini dan itu, menyuruh ini dan itu, kakak ipar yang tak pernah kapok ngeledek saya, keponakan yang ribut, nangis, jalan-jalan. Ramai. Berisik. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Suara piano yang dimainkan membuat saya menyetel winamp dengan kerasnya. Woy berisik… 😦

 

Pernah dalam keadaan kesal dan marah, saya mengungkapkan keinginan kepada ibu untuk pergi dari rumah, ngekos. Beberapa kali saya kemukakan itu, dan sempat terdengar kakak dan membuat dia tersinggung dan mengatakan harusnya dia yang keluar dari rumah ini. Hmmm.. rasanya ga tahan ada di sini. Bener-benar ga kondusif, berisik, capek.

 

Saya tak pernah berpikir dan berharap ada dalam kondisi ini. Tinggal bersepuluh dalam satu rumah. (7 dewasa + 3 anak) Tapi, siapa yang menyangka ketika seharusnya saya membutuhkan keheningan untuk bekerja, saya harus diributkan dengan urusan keponakan saya yang menangis dan mengompol dan ingin bergantian memakai komputer sementara saya banyak kerjaan, kakak saya yang ribut biaya telpon dan listrik yang membuat saya tak lagi memakai telepon rumah, urusan bergantian listrik antara AC, air, komputer, nyetrika, dll serta gangguan-gangguan kecil lainnya. Jadi, harap maklum ketika tiba-tiba listrik mati dan hal biasa ketika ibu mengingatkan ”udah disimpen nov?” atau ketika saya bertanya, “Boleh nyalain komputer, ga?”

 

Belum lagi, kini saya tidak memiliki privasi, kamar saya kini ditempati dua pembantu di rumah saya. Seharusnya, kami satu kamar bertiga, karena barang-barang saya, kasur saya masih ada di sana, tapi karena sering tidur larut, saya enggan untuk masuk kamar dan khawatir membangunkan mereka. Saya lebih sering tertidur di ruang kerja saya yang juga penuh dengan beraneka barang dan mainan keponakan saya. Benar-benar tidak enak.

 

Rasanya memang tidak enak sekaligus tidak menyenangkan berada dalam kondisi itu. Mungkin seharusnya saya kerja kantoran saja. Tidak full 24 jam ada di sini dengan segala keributan dan kehebohan.

 

Tapi, tiba-tiba di tengah ketidakenakan itu saya menemukan sebuah titik yang membuat diri saya sadar. Kesadaran yang entah ada di sudut hati yang mana hingga saya baru mengerti.

 

Yups, sebuah kehangatan keluarga. Suasana, keceriaan, keramaian selalu jadi warna dalam hari-hari saya. Suara mesin air, suara TV, teriakan keponakan, kehebohan di pagi hari dan masih banyak lagi.

 

Kenapa saya harus kesal dengan kondisi ini? Kenapa saya tak melihat sisi lain dari kehidupan saya yang terbilang unik dan menyenangkan yang belum tentu bisa saya dapatkan ketika saya ngekos atau hanya tinggal bersama ibu.

 

***

 

Pertama, di sini ada ibu, yang tak segan mendukung saya 1.000% ketika akhirnya saya memutuskan freelance dengan pemasukan yang tak tentu. Yang sering dengan tiba-tiba menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk karena saya terus saja di depan komputer hingga lupa waktu makan. Atau menaruh secangkir teh, segelas air putih atau secangkir kopi di atas meja kerja saya, atau menaruh jeruk di sebelah monitor komputer saya.

 

Hmm.. bisa dikatakan saya benar-benar dimanja, sangat… sangat.. dan apa yang dia tuntut dari saya? Tidak ada.. dia akan gembira ketika saya memberi sekian uang saya untuk dia, dia akan tersenyum ketika saya memberi honor menulis. Dan bila saya tak mampu memberi, dia tak minta apa-apa. Dia bahkan sudah seperti manajer saya, sering mengingatkan saya ketika saya mulai bermain-main, karena dia tahu saya sedang ada kerjaan. Terkadang memberesi meja kerja saya. Merapikan kertas-kertas dan mengamankan flashdisk, setumpuk cd dari jangkauan keponakan saya.

 

Kedua, mbak saya, kata-kata seperti:

“Nop, gw beliin pulsa, tuh” “Nop, mau oleh-oleh apa?” “Nop, gw beliin makanan tuh” “Kembaliannya ambil aja”, “Bonekanya buat lo aja” “Ayo gw anter,” “Yuk, kita ke sana yuk” “Nop, mau nitip apa?” dan masih banyak lagi yang dia lakukan untuk saya, adiknya. Tanpa minta apapun dari saya. “Kalo lo mau ngasi sukur, ga ya udah” ketika saya bertanya tentang biaya listrik di rumah atau di satu kesempatan  betapa seringnya saya berkata “oleh-oleh, ya” “mau doooooooonk” dan sangat sering juga dia membawakan oleh-oleh dan memberi. Dia pun tak pernah absen memberikan saya THR 🙂 atau manalangi membayarkan benda yang ingin saya beli.

 

Kakak ipar saya… Siapa yang rela mengangkut 3-5 rim kertas dari pasar pagi, ketika saya menitip, yang mengoleh-olehi saya tas ketika dia jalan-jalan, yang dengan mudah mentraktir saya, yang beberapa kali mengantar saya ke klinik ketika saya sakit, mencarikan tempat saya berobat, yang mengusahakan mencarikan makanan favorit saya ketika saya menitip ke mbak saya, yang rela ikutan bolos ngantor, ketika satu keluarga menjemput saya di bandara, membawakan tas-tas saya dan masih banyak lagi…

 

Saya akui mereka pasangan yang cocok kalau urusan berbaik hati. Pasangan unik yang kerap membuat saya geleng-geleng kepala, dan seharusnya bisa berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka.

 

Terakhir, 3 keponakan saya, mereka selalu menangis, marah ngambek, tapi mereka tertawa dengan renyahnya, menggoda saya, menepuk-nepuk saya dari belakang ketika saya bekerja, ikut mengetik di komputer ketika saya pangku, bercanda, dan tentunya saya harus siap sedia kena ompol mereka dan menyeboki di kala mereka buang air.

 

Ibu, mbak, kakak ipar dan 3 keponakan saya memberi begitu banyak, sementara mereka hanya meminta sedikit pengertian saya, betapa pentingnya kebersamaan, kehangatan keluarga.

 

Mereka tak pernah menuntut saya. Nggak pernah. Mereka memfalisitasi diri saya, cpu yang saya cicil dari ibu yang sudah menalangi terlebih dulu, meja komputer yang fungsional sehingga tidak terjangkau bayi-bayi manis di rumah, meja tulis yang dibelikan ibu, pemasangan internet atas inisiatif kakak ipar sehingga bisa dapat paket murah, mesin faks punya kakak tapi juga  bisa saya gunakan. Apa lagi??? Mereka hanya minta space sedikit di ruang saya untuk bermain, untuk menaruh barang dagangan kakak, tidak lebih. Mereka juga hanya meminta space sedikit di hati saya untuk “mengerti”. Mereka hanya minta sedikit waktu saya untuk pertolongan sesaat, mengajak bermain ketiga keponakan saya.

 

“Hmmm…, bukankah berbagi itu indah?”

Sekarang, di tengah penuhnya rumah ini, di tengah banyaknya barang-barang di ruang tamu, dari motor, mainan keponakan, kereta bayi,  dan buku cerita fikri di atas meja kerja, saya menikmati kenyamanan dan kehangatan dengan perasaan lapang. Mengapa saya harus kesal hanya dengan kebisingan sesaat, kebisingan yang mungkin satu saat nanti akan saya rindukan , keramaian di pagi hari, kehangatan makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan…..

 

Mereka membagi begitu banyak kepada saya dan hanya meminta sedikit kepada saya, yaitu sebuah pengertian.

 

Mungkin saat ini saya belum mampu sepenuhnya, tapi semoga saya bisa terus belajar untuk memberikannya…