Suara Terbalik — Nenden Lilis A

Pada suatu malam yang cerah, masyarakat Cikoneng mengadakan pendakian ke tempat Mbah Bajik bertapa. Mbah Bajik seorang tua yang tubuhnya telah berlumut oleh usia, seperti sudah merasakan akan banyak orang mengunjunginya malam itu. Dari ketinggian Mbah Bajik melihat barisan obor menyala, berbondong-bondong di jalan menuju ke tempatnya. Dari arah obor-obor itu terdengar suara getir merayap di kesunyian.

“Mbaaaaah…, tolonglah kami, tolonglah kami…”

Suara itu meratap-ratap bagai dibawa angin dari sebuah dasar jurang penuh ular berbisa.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dijodohkan oleh Nyokap, tapi ceweknya kabur duluan

Pada tulisan yang lalu, aku ‘dah provokasi para ortu supaya suruh anak cari pacar! Sebagian besar remaja tentu senang bila dikomando gitu. Gak disuruh aja udah ngebet, apalagi diminta. Mereka bakal bersorak kegirangan sambil berteriak dalam hati, “Asyiiiiikk….

Namun, ada juga yang “luar biasa”. Mau tahu contoh kisahnya? Baca lebih lanjut

Bersahabat dengan Musuh

Hello, friend! Pa kabar? Masih suka baca-baca? Aku sendiri baru males nulis walo nggak males baca. Makanya, daripada menulis asal-asalan dan nggak bermutu, kali ini aku kutipkan saja beberapa paragraf mengesankan dari buku Tony Buzan, The Power of Social Intelligences, hlm. 108-110:

Cerita Binatang yang Menakjubkan

Kru film Canadian Natural History membuat film tentang dunia satwa yang belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya–setahun bersama-sama sekawanan serigala, mengikuti mereka dengan helikopter untuk membuat film dari udara tentang kawanan serigala yang bermigrasi bersama dengan sumber utama makanan mereka, kawanan rusa….

Sebelumnya orang menganggap bahwa pada waktu bermigrasi, kelompok rusa bererak tersendiri dan terpisah, sementara kawanan serigala mengikutinya dari belakang. Selain itu, terdapat anggapan sebelumnya bahwa kawanan serigala sering menyergap rombongan rusa dengan cara pengecut, yaitu ketika mangsanya sedang lemas dan letih.

Namun kenyataannya sungguh menakjubkan: Baca lebih lanjut

Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian?

Suatu hari, Fulan (bukan nama sebenarnya), pemimpin sebuah grup orkes campursari yang cukup tersohor di seantero Wonogiri (Jawa Tengah) ditelepon Pak Gagah (bukan nama sebenarnya), warga suatu desa di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri. Ia mau menyewa orkesnya Fulan untuk resepsi di rumahnya.

Fulan pun segera menghubungi krunya.

“Wah, kebetulan aku lagi bokek. Aku utang dulu, ya, Bos?” kata si pemain organ.

“Nggak perlu. Nih, aku lunasi dulu honormu nanti,” jawab Fulan sambil menyerahkan uang Rp 300.000. Toh, pikir Fulan, seusai pentas ia akan menerima Rp 1.000.000 tunai untuk lima orang personil orkes: si pemain organ, kru teknik, Fulan sang pemimpin, dan istrinya, Fulanah, yang bertindak selaku penyanyi, serta seorang penyanyi lain.

Singkat cerita, tibalah hari-H. Malamnya, rombongan orkes Fulan menempuh perjalanan ke rumah Pak Gagah.

Baca lebih lanjut

Orang Yang Paling Populer (dan Paling Bahagia)

Saat Tony Buzan masih remaja, ia mengandalkan IQ-nya dalam bergaul dengan orang lain. Dengan senjata andalannya ini, ia suka menganalisis kekurangan orang lain. Ia libatkan diri dalam aneka perdebatan. Tony selalu berupaya mencari kelemahan pendapat orang-orang, mematahkan argumentasi mereka, dan memperlihatkan bahwa yang benar adalah pendapat dirinya. Disangkanya, untuk menjadi populer, orang harus tampak “pintar” (ber-IQ tinggi) dan memenangi berbagai “pertempuran” (debat).

Namun, hasilnya mengejutkan. Baca lebih lanjut