Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian?

Suatu hari, Fulan (bukan nama sebenarnya), pemimpin sebuah grup orkes campursari yang cukup tersohor di seantero Wonogiri (Jawa Tengah) ditelepon Pak Gagah (bukan nama sebenarnya), warga suatu desa di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri. Ia mau menyewa orkesnya Fulan untuk resepsi di rumahnya.

Fulan pun segera menghubungi krunya.

“Wah, kebetulan aku lagi bokek. Aku utang dulu, ya, Bos?” kata si pemain organ.

“Nggak perlu. Nih, aku lunasi dulu honormu nanti,” jawab Fulan sambil menyerahkan uang Rp 300.000. Toh, pikir Fulan, seusai pentas ia akan menerima Rp 1.000.000 tunai untuk lima orang personil orkes: si pemain organ, kru teknik, Fulan sang pemimpin, dan istrinya, Fulanah, yang bertindak selaku penyanyi, serta seorang penyanyi lain.

Singkat cerita, tibalah hari-H. Malamnya, rombongan orkes Fulan menempuh perjalanan ke rumah Pak Gagah.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bila belum terbiasa antri membayar rekening

“Fulan, tolong bayarkan PDAM-nya ya!” kata Bu Fulanah, sang ibu kos.

“Iya, bu!” jawab Fulan, si anak kos di Cangakan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebetulnya, Fulan malas. Namun berhubung yang menyuruh dia itu ibu kos, terpaksalah ia mengiyakan. Berangkatlah ia ke kantor PDAM.

Baca lebih lanjut